Langsung ke konten utama

Cinta Indonesia? Cintai Produk Indonesia! Pertamax Produk Indonesia



Pernahkah anda memerhatikan produk-produk yang anda gunakan atau pun yang ada di sekitar kalian? Jika anda perhatikan, kemungkinan besar produk-produk tersebut berasal bukan dari Indonesia. Pakaian, sembako, barang elektronik, bahkan mainan anak-anak sebagian besar bukanlah produk asli Indonesia. Ketika anda ingin merokok pun kemungkinan korek yang anda gunakan berasal dari Cina.
Cina sampai dengan saat ini memang mendominasi produk-produk di Indonesia. Dikutip dari Nusantara.news, bahwa produk-produk negeri Tirai Bambu tidak hanya mendominasi Indonesia bahkan juga di negara-negara lain. Penduduk Indonesia yang konsumtif menjadikan pasar Indonesia sangat menggiurkan bagi negara asing termasuk Cina.
Sebagai generasi muda khususnya, seharusnya ikut mendukung produk Indonesia dalam gaya hidup sehari-hari. Hal tersebut tentu sama artinya dengan mendukung lapangan pekerjaan dan kesejahteraan rakyat. Maka dari itu, cinta produk dalam negeri sama artinya dengan cinta Tanah Air.
Sebagai warga negara Indonesia, untuk menunjukkan cinta Tanah Air satu contoh yang dapat dilakukan adalah mendukung produk-produk dalam negeri. Salah satu contoh produk dalam negeri adalah Pertamax. Pertamax merupakan salah satu jenis produk buatan Pertamina. Jenis bahan bakar dengan nilai oktan 92, Pertamax sangat cocok untuk mesin motor saat ini yang rata-rata memiliki rasio kompresi 8:1 hingga 12:1.
http://hariansinggalang.co.id/wp-content/uploads/2016/03/pertamax.jpg
Pertamax, salah satu produk pertamina dengan oktan 92 yang cocok untuk kendaraan saat ini. (Foto: Singgalang Padang)
Dengan menggunakan Pertamax sebagai bahan bakar kendaraan bermotor dalam kehidupan sehari-hari tentu mendukung eksistensi Pertamina terus bertahan. Kita tahu bahwa perusahaan termasuk Pertamina adalah penyerap dan penyedia lapangan pekerjaan. Dengan begitu maka kesejahteraan rakyat akan terjaga bahkan akan semakin makmur apabila perusahaan mampu bersaing hingga menembus internasional.
Memang, jika kita amati produk-produk impor jauh lebih ekonomis. Produk dalam negeri juga seringkali dianggap kurang berkualitas. Namun, itulah yang menjadi sebuah tantangan rasa cinta terhadap Tanah Air. 

#GenLangitBiru


(Zahid Arofat - Grand Finalis Citizen Journalist Academy Energi Muda Pertamina Semarang, Temannya Andre Findy Fajar S)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kritik Sastra: Psikologi Tokoh dalam Cerpen Topi Helm A.A. Navis

Buku Robohnya Surau Kami karya A. A. Navis. Foto: Asep Sopyan Sinopsis cerpen "Topi Helm" dalam Robohnya Surau Kami A.A. Navis Topi Helm Tuan O.M (Tuan Gunarso) adalah seorang opseter pada sebuah bengkel kereta. Tubuhnya pendek, namun dia sangat berwibawa karena topi helm yang dikenakannya. Hal itulah yang membuat dia dijuluki sebagai Si Topi Helm . Kewajiban Si Topi Helm itu membuat ia juga ditakuti oleh para pekerjanya. Namun ketakutan itu malah justru dijadikan sebagai candaan atau olok-olok para pekerjanya. Ketika mereka sedang asyik mengobrol sambil bekerja, seringkali ada yang mengatakan “Ssst... Si Topi Helm”. Tentu saja para pekerja itu tunggang langgang dan pura-pura untuk bekerja dengan rajin, seolah-olah mereka tidak pernah mengobrol ketika bekerja.  Hinggaa Tuan O.M harus dipindahtugaskan ke Bandung dan memutuskan untuk memberikan Topi Helmnya kepada Pak Kari, pekerjanya pada bagian rem. Tentu Pak Kari merasa sangat senang mendapatkan Topi Helm i...

Antologi Puisi

CERMIN DIRI Oleh: Mega Dessy Ratnasari   Waktunya telah tiba, untuk segera melepas keterikatan Rambut ini mulai rontok, seakan semuanya makin parah Bisa juga lama-lama menjadi botak Aku tak peduli, ku anggap semuanya baik-baik saja Tidak menutup kemungkinan masanya akan datang Bersamaan dengan sakit yang memudar Masih ingat kalau aku sedang sakit? Tentu kau lupa Perempuan macam apa aku? Biadab mungkin Ada yang bilang kalau aku tak tahu diri Ya, ada benarnya Kata orang aku tak tahu malu, ku benarkan saja Bisa juga kaca dirumahku terlalu kecil Atau, lama-lama aku tidak membutuhkannya Untuk apa? Berdandan? Ingat, aku ini perempuan biadab jadi tidak butuh kaca Pecah saja, kemudian buang DIAMBANG KEBODOHAN Oleh: Mega Dessy Ratnasari   Kejiwaan pasti pas untuk di bicarakan Berimajinasi tanpa mengenal batas normal Beberapa hari ini kualami Hilang kendali dengan beragam keabu-abuan Sepertinya diambang ketakutan tapi menutup ...

Tradisi Mauludan di Dukuh Karangjati, Desa Jatisari, Kecamatan Jakenan, Pati

Pembacaan kitab Al-barjanji atau Burdah dalam tradisi Mauludan di Dukuh Karangjati. Foto: Zahid Arofat Tak sekadar membaca kitab Al-barjanji, Ratib, atau Burdah, tradisi Mauludan di Dukuh Karangjati, Kecamatan Jakenan, Kabupaten Pati, juga diikuti serangkaian prosesi yang telah turun-temurun hingga kini. PENDAHULUAN Latar Belakang Banyak cara yang dilakukan oleh masyarakat untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, khususnya masyarakat yang beragama islam dan berfaham Ahlussunnah Wal Jamaah (ASWAJA). Ada yang membaca riwayatnya (Albarjanji, burdah, dan sebagainya), ada yang mengadakan pengajian akbar, ada rebut gulungan seperti di Solo dan masih banyak lagi. Di Pati, tepatnya di Dukuh Karangjati, Desa Jatisari, Kecamatan Jakenan juga tidak pernah ketinggalan untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW karena semua masyarakatnya beragama islam, meski ada satu-dua orang yang bukan berpaham ASWAJA (biasanya bukan penduduk asli). Masyarakat di sana...